Mereka itu Si Hijau

Semalam, telinga aku menghangat hebat. Bukan kerana kari kambing Pakistan, atau kebab ala-Turki yang jadi santapan. Tapi darah mudaku sepanas Kilimanjaro menanti lopong lohong untuk memuntah marah. Terima kasih teman, atas redaanmu. Kemahuanku memberontak. Punggungku ini tak bisa ditahan lagi. Aku mesti melangkah kaki lari dari dunia yang penuh tipu daya dan bertuhankan kezaliman.

Aku bukan si hipokrit, yang bisa duduk semeja dengan mereka. Apatah lagi untuk berpura tertawa pada jenaka, yang aku kira lebih rendah kualitinya dari Raja-raja Lawak kita. Aku terkial-kial. Masih belum biasa dengan jubah barat yang menjadi pakaian tema urusan rasmi mereka. Aku makin pening dengan lagu sudu garfu yang jadi mainan di meja makan. Tak ubah seperti bunyi hunus pedang di medan perang.

Ahh.. Aku benci dunia itu. Sungguh terasing sekali aku rasakan. Yang bersongkok itu nantinya jadi pembaca doa makan. Jubah mereka nanti akan menyilaukan mataku dengan pantulan cahaya jingga dari besi-besi kecil di jubah mereka. Nantinya dunia aku penuh hilai tawa, dengan senda gurau bertepuk tampar sesama mereka.

Sungguh kasihan, Si Hijau yang baru menjejak di bumi tandus, sudah mabuk disogok dengan janji-janji lapuk. Kali ini diugut pula dengan khabar amaran yang Si Hijau ini akan pudar hijaunya jika tidak bersama mereka. Jadi, mereka saling berlumba buku resit siapakah yang lebih tebal, itu yang ditabal pemenang. Emas jingga yang berkilat di kolar jubahmu itu dilihat murahan bila peri kemanusiaan telah kau injak-injak.

Jangan bimbang, Si Hijau.

Aku bersama teman lain akan cuba membawamu keluar dari azab ini nanti.

Menyedut sulaman kata oleh Mak Kucing :

“Manusia-manusia intelek atau cenderung-politik yang leka dengan dunia mereka, mabuk dengan seminar dan kolokium, diskusi dan persidangan, bergesel bahu dengan tokoh akademik dan makan semeja dengan pemuka parti-parti besar, langsung mendabik dada sebagai saviour , pembela dunia. Konon mau membela nasib umat yang tidak mereka kenalpun sebenarnya. Mau memperjuangkan keadilan, sedangkan keadilan itu mereka tidak fahampun ertinya. Mau menghapuskan kezaliman, sedangkan kezaliman itu mereka sendiri sebahagian daripadanya. Mau memprotes diskriminasi dan menuntut kesamarataan hak, walhal ruang lingkup hak itupun mereka taksirkan dengan kamus sendiri, bukan dengan perbendaharaan kata orang-orang yang konon mereka pertahankan.”

P/S: Maaf ya Mak Kucing. Ayat ini seperti tangkal lenggoknya, jadi ku buat zikir tika mengasap kerisku ini.

13 Tanggapan ke “Mereka itu Si Hijau”

  1. Azhar Ahmad Berkata:

    Darahku seumpuma meluap seperti ledakan Toba, yang menyebabakn, Benua Amerika dan Afrika Terpisah…. Marah sungguh!

  2. realylife Berkata:

    semoga ke depan lebih bisa memahami , lagi belajar bahas melayu di Medan

  3. achoey sang khilaf Berkata:

    kita saudara serumpun akhi
    makaih tulisan2nya yang mencerahkan

  4. jp Berkata:

    Berjiwa.

    :)

  5. teja Berkata:

    eletisme menular di mana-mana. dunia hemisfera selatan juga tidak dapat lari darinya.
    seniman, selalu tidak selari dengan mereka.

    :D

  6. Affuan Berkata:

    wei, kem salam kat mak kucing. keke.

  7. alirfan Berkata:

    # Azhar Ahmad :
    banyak bersabar bro. Amarah itu membahayakan.

    # realylife :
    Wah,bersemangat sungguh kamu. Saya doakan kamu berjaya.

    # achoey sang khilaf :
    Sama-sama.

    # jp :
    Jiwa? hmm..??

    # teja :
    Ahh.. adakah aku berjiwa seniman? Sesungguhnya aku adalah aku.. Laxamana punya tip untuk menghadapi mereka?

    # Affuan :
    Wah wah.. pergilah sendiri mengirimkan salammu itu. Adakah punya maksud yang lain? Haha (faham sendirilah ya?)

  8. Mr Ah Fa Berkata:

    Wowowo!

    Dush! *pensan*

  9. titan Berkata:

    andai ku punye tenaga menolak bah pasifik. Pasti ku bantu mu dari utara tanah air..

  10. anego Berkata:

    Ermmm….

  11. naim Berkata:

    Sungguh puitis. Banyakkan bersabar. Dalam apa-apa keadaan kita perlu bijak mengambil peluang.

  12. SoFF-OnE Berkata:

    apakah yang berlaku?

    aku tak dapat mencerna maksud dibalik karya. imaginasi hanya mampu mengkhayalkan keadaan dalam majlis makan disertai golongan bangsawan bercakap isu kesampahan. tepat?

  13. audia Berkata:

    bagus d….

    y… kiamat mank smakin dkt y….

    smoga aj mkn byk org2 yg mw tbt sma ALLAH

Tinggalkan Balasan